Sikap-Sikap yang Harus Diperhatikan Dalam Ibadah Zakat

Ronny Riansyah Muksin

STEI SEBI

HES20B

-Al-Israr (Sembunyi-Sembunyi Dalam Berzakat)

“Jika kalian menampakkan sedekah-sedekah (kalian), itu adalah baik sekali, dan jika kalian menyembunyikan sedekah kalian itu serta kalian memberikannya kepada orang-orang fakir, itulah yang lebih baik bagi kalian.” (QS. Al-Baqarah [2]: 271).

Diriwayatkan oleh Abu Hurairah, Rasulullah Muhammad Shallallahu ‘Alaihi Wa Sallam bersabda, Ada tujuh golongan yang akan dinaungi oleh Allah dengan naungan ‘Arsy-Nya pada hari di mana tidak ada naungan kecuali hanya naungan-Nya semata, 1) Imam (pemimpin) yang adil, 2) Pemuda yang tumbuh besar dalam beribadah kepada Rabbnya, 3) Seseorang yang hatinya senantiasa terpaut pada masjid, 4) Dua orang yang saling mencintai karena Allah, di mana keduanya berkumpul dan berpisah karena Allah, 5) Dan seorang laki-laki yang diajak (berzina) oleh seorang wanita yang berkedudukan lagi cantik rupawan, lalu ia mengatakan, “Sungguh aku takut kepada Allah”, 6) Seseorang yang bersedekah lalu merahasiakannya sehingga tangan kirinya tidak mengetahui apa yang diinfaqkan oleh tangan kanannya, 7) Dan orang yang berdzikir kepada Allah di waktu sunyi, lalu berlinanglah air matanya. (HR. Bukhari, No. 660)

Imam Abu Hamid Al Ghazali, berkata dalam Kitabnya Ihya Ulumiddin, memberikan sedekah dengan sembunyi-sembunyi itu dapat terselamat dari riya dan kemasyuran. “Barangsiapa menyebut-nyebut sedekahnya, berarti menginginkan kemasyhuran. Dan barang siapa yang membeli di tengah-tengah orang banyak, dia adalah ahli riya,”

Kemudian beliau menyebutkan ada 5 pengertian dalam menyembunyikan sedekah (zakat)

  • Pertama, sedekah dengan sembunyi-sembunyi lebih kuat dalam menjaga tertutupnya tirai si penerima. Jika ia menerima sedekah dengan terang-terangan, terbukalah tirai harga dirinya, tersingkaplah kondisinya yang membutuhkan, serta keluarlah ia dari keadaan menjaga kehormatan diri dan dari penjagaan tercinta yang pelakunya dikira orang kaya oleh orang bodoh karena keengganan memintanya.
  • Kedua, sedekah dengan sembunyi-sembunyi lebih menyelamatkan hati manusia dan lidah mereka. Bisa jadi ada orang orang yang mendengki atau mengingkari bahwa si fulan pantas menerimanya dan mereka mengira bahwa si fulan menerima seraya menganggap si fulan kaya. Dengki, buruk sangka, dan gibah adalah termasuk dalam dosa-dosa besar, dan menjaga mereka dari dosa-dosa ini adalah lebih utama. Ayyub as-Sakhtiyani berkata, “Aku sungguh-sungguh meninggalkan pemakaian baju baru karena takut tetanggaku menjadi dengki.” Yang lain berkata, “Aku juga begitu karena takut saudara-saudaraku berujar, ‘Dari mana ia mendapatkan itu.”
  • Ketiga, sedekah dengan sembunyi-sembunyi membantu si pemberi dalam merahasiakan amal. Karena keutamaan merahasiakan pemberian lebih besar dibandingkan menampakkannya, dan membantu penyempurnaan kebaikan adalah kebaikan. Pernah seorang laki-laki memberikan sesuatu kepada seorang ulama secara terang-terangan, maka sang ulama menolaknya dan orang lain memberikan sesuatu kepada sang ulama secara rahasia, maka sang ulama menerimanya. Sang ulama pun ditanya tentang sikapnya itu, lalu ia menjawab, “Sesungguhnya orang ini telah berbuat dengan adab tentang menyembunyikan kebaikannya, maka kuterima, sedangkan orang itu telah melakukan sesuatu yang tidak beradab dalam perbuatannya, maka kutolak.” Sebagian mereka juga menolak sesuatu yang diberikan kepadanya secara terang-terangan dan berkata kepada si pemberi, “Sesungguhnya engkau telah menyekutukan Allah dengan selain-Nya pada sesuatu yang merupakan milik Allah Taala dan engkau tidak berqanaah (merasa cukup) dengan Allah Azza wa Jalla, maka kukembalikan sekutumu kepadamu.”
  • Keempat, menerima sedekah secara terang-terangan dapat terkandung kehinaan dan kerendahan dan tidaklah patut bagi seorang mukmin merendahkan dirinya sendiri.
  • Kelima, sedekah secara sembunyi-sembunyi menghindari kesyubhatan kepemilikan bersama, berdasarkan hadits, “Barang siapa diberi hadiah dan ia sedang bersama sejumlah orang, sesungguhnya orang-orang itu turut memiliki hadiah itu bersamanya.”

Maka sejatinya yang terpenting dalam bersedekah atau berzakat adalah keikhlasan atau niat tulus dan bersih dari keinginan-keinginan duniawi seperti mendapatkan balasan yang lebih banyak,  mendapatkan pujian dari orang lain, mendapatkan popularitas di tengah-tengah masyarakat, atau pencitraan dengan maksud-maksud tertentu.

Keikhlasan seperti itu hanya bisa dicapai ketika seseorang dalam bersedekah menyembunyikan tangan kanannya agar tidak diketahui oleh tangan kirinya. Maksudnya,  jangan sampai sedekah yang kita lakukan dengan  niat semata-mata beribadah kepada Allah, dirusak oleh nafsu jelek yang ada dalam diri kita sendiri.

-Menyebut-nyebut dan menyakiti perasaan orang yang menerima zakat

“Wahai orang-orang yang beriman! Janganlah kamu merusak sedekahmu dengan menyebut-nyebutnya dan menyakiti (perasaan penerima), seperti orang yang menginfakkan hartanya karena ria (pamer) kepada manusia dan dia tidak beriman kepada Allah dan hari akhir. Perumpamaannya (orang itu) seperti batu yang licin yang di atasnya ada debu, kemudian batu itu ditimpa hujan lebat, maka tinggallah batu itu licin lagi. Mereka tidak memperoleh sesuatu apa pun dari apa yang mereka kerjakan. Dan Allah tidak memberi petunjuk kepada orang-orang kafir.” (QS. Al-Baqarah [2]: 264).

Allah SWT memberikan pahala begitu besar bagi hambanya yang mau menafkahkan hartanya di jalan Allah (sedekah). Namun, pahala sedekah itu akan rusak jika si pemberi menyebut-nyebut pemberiannya dan menyakiti si penerima.

Syekh Jalaluddin As-Suyuthi dalam kitabnya Durrul Mantsur mengatakan Rasulullah shallallahu sallam telah bersabda ada beberapa orang yang tidak akan masuk surga. Pertama, adalah orang yang menyebut-nyebut pemberian. Kedua, orang yang tidak patuh kepada kedua orang tuanya.  Ketiga, orang yang biasa meminum khamar dan sebagian.  

Imam Ghazali menulis dalam kitab Ihya Ulumuddin mengenai adab bersedekah. “Janganlah merusak sedekah dengan “mann” dan “adza”. Mengenai penjelasan “mann” dan “adza” beberapa penjelasan dari para ulama. Sebagai ulama mengatakan “mann” adalah menyebut-nyebut sedekah di hadapan orang yang diberi, dan “adza” adalah memberitahukan sedekah itu kepada orang lain. Sedangkan ulama lain berpendapat “mann” adalah memerintahkan orang yang diberi tadi melakukan suatu pekerjaan tanpa dibayar, sebagai pengganti pemberiannya. Adapun “adza” adalah mengatakan orang yang diberi adalah orang miskin.

Sebagian ulama lainnya berkata arti “mann adalah bahwa dengan pemberian tersebut, orang yang memberi menunjukkan kebesaran dirinya kepada orang diberi dan “adza” adalah membentak orang yang diberi karena telah meminta-minta. Imam al-Ghazali berkata arti “mann” yang sebenarnya adalah orang yang memberi merasa dirinyalah yang berjasa kepada orang yang diberi dan perasaan itu ditunjukkan dalam perbuatan seperti disampaikan di atas.

Padahal seharusnya orang yang memberi itu merasa orang fakir yang diberi itu telah berjasa kepadanya, karena orang fakir itu telah menerima hak Allah SWT darinya. “Sehingga orang yang memberi terbebas dari tanggungjawab, dan menjadi sebab bersihnya harta bendanya, dan menyelamatkan dari adzab jahannam yang akan menimpanya karena tidak menunaikan zakat,” kata Imam Ghazali dalam kitab Ihya Ulumuddin.

-Sombong

Salah satu hal yang dapat menjadikan amal saleh rusak adalah rasa bangga pada diri sendiri, merasa bangga pada diri sendiri merasa cukup dengan itu dan bersikap sombong. Penyakit yang berbahaya yang dapat merembes masuk untuk menjadikan jiwa manusia ternoda ini dapat menghancurkan amal saleh. Bahkan dampak bahayanya bisa masuk pada wilayah syirik khafi (samar) kepada Allah.

Haritsah bin Wahb berkata bahwa ia mendengar Rasulullah SAW bersabda: “Maukah kalian aku beri tahu tentang penduduk neraka? Mereka semua adalah orang-orang kasar, rakus, dan sombong.” (HR  Bukhari dan Muslim). Hadis ini menjelaskan tentang bahayanya sifat sombong. Kesombongan merugikan pelakunya di dunia dan juga di akhirat kelak. Tiga perilaku buruk tersebut akan membawa manusia menjadi penghuni neraka.

Apabila kita diberikan kekayaan, misalnya, terkadang kita juga merasa hebat dari orang yang tak punya. Padahal, kekayaan dan kemiskinan sejatinya hanyalah ujian dari Allah untuk manusia, untuk melihat seberapa baik orang kaya dan seberapa sabar orang miskin.  Oleh sebab itu, sungguh tak elok jika kita melukai hati manusia lain dengan kekayaan dan jabatan yang sejatinya adalah titipan. Rasulullah SAW bersabda: “Cukuplah seseorang dikatakan berbuat jahat jika ia menghina saudaranya yang Muslim.” (HR Muslim). Seorang mukmin sudah seharusnya membenamkan sifat sombong dan angkuh. Kita harus merendahkan hati agar tak dibenci Allah yang Mahasuci

-Menampakkan Sedekah Terutama Zakat

“Kalau kamu tampakkan sedekah-sedekah itu (secara terang), maka yang demikian adalah baik (karena menjadi contoh yang baik) dan kalau pula kamu sembunyikan sedekah-sedekah itu serta kamu berikan kepada orang-orang fakir miskin, maka itu adalah baik bagi kamu dan Allah akan menghapuskan dari kamu sebahagian dari kesalahan-kesalahan kamu dan (ingatlah), Allah Maha Mengetahui secara mendalam akan apa yang kamu lakukan.” (QS. Al Baqarah: 271)

oleh sebab itu bagi yang ingin menampakkan sedekah yang diberikan, ada baiknya mempertimbangkan beberapa hal berikut ini:

  • Niat untuk mencontohkan kebaikan

Antara pamer (riya) dengan memberi contoh kebaikan bedanya hanya di niat. Dan niat itu letaknya di hati, bukan di lisan. Sehingga kita harus benar-benar menjaga niat ketika ingin menampakkan sedekah yang dilakukan. Jika ternyata menampakkan sedekah tujuannya adalah untuk pamer di hadapan manusia, maka in syaa Allah kita takkan mendapat pahala dari sedekah tersebut.

  • Memahami bahwa sedekah sembunyi-sembunyi lebih besar keutamaannya Memang menampakkan sedekah itu diperbolehkan akan tetapi sedekah sembunyi-sembunyi punya keutamaan yang lebih besar, salah satunya adalah memadamkan kemurkaan Allah. Dari Mu’awiyah bin Haidah radhiyallahu’anhu, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Sesungguhnya sedekah secara rahasia bisa meredam murka Rabb (Allah) tabaroka wa ta’ala.” (HR. ath-Thabrani)
  • Risiko terkena riya

Bisa jadi awalnya niat menampakkan sedekah hanya untuk mencontohkan kebaikan, akan tetapi karena sulit dikontrol,  lama-lama malah senang dapat sanjungan, pujian, dan menyeret hati ke arah riya’ (pamer). Dan jika sudah masuk riya’ di hati, maka hilangkan pahala sedekah tersebut. “Hai orang-orang yang beriman, janganlah kamu menghilangkan (pahala) sedekahmu dengan menyebut-nyebutnya dan menyakiti (perasaan si penerima), seperti orang yang menafkahkan hartanya karena riya kepada manusia dan dia tidak beriman kepada Allah dan hari kemudian. Maka perumpamaan orang itu seperti batu licin yang di atasnya ada tanah, kemudian batu itu ditimpa hujan lebat, lalu menjadilah dia bersih (tidak bertanah). Mereka tidak menguasai sesuatupun dari apa yang mereka usahakan; dan Allah tidak memberi petunjuk kepada orang-orang yang kafir . “ (Al Baqarah:264)

Jadi, meskipun diperbolehkan menampakkan sedekah kita, akan tetapi perlu dikontrol hati ini agar tidak terjerumus ke arah riya’ dan ujub yang pada akhirnya malah memudahkan pahala amalan sedekah kita.