Keutamaan Sedekah di Jalan Allah

NASRULLAH (211410123)

Pengasuh Tahfidz Askar Kauny Cikarang Mekar Indah

Mahasiswa INSTITUT PERGURUAN TINGGI ILMU AL-QUR’AN JAKARTA

Email : nasrullahnasrullah@mhs.ptiq.ac.id

Sedekah menurut KBBI memiliki arti pemberian sesuatu kepada fakir miskin atau seseorang yang berhak untuk menerimanya. Di luar kewajiban zakat dan zakat fitrah sesuai dengan kemampuan orang yang memberikannya.

Dari Abu Hurairah RA, Rasulullah SAW bersabda bahwa “Setiap orang berada di bawah naungan sedekahnya (pada hari kiamat) hingga diputuskan di antara manusia atau ia berkata: “Ditetapkan hukuman di antara manusia.” Yazid berkata: “Abul Khair tidak pernah melewati satu hari pun melainkan ia bersedekah kepadanya dengan sesuatu, walaupun hanya sepotong kue atau bawang merah atau seperti ini.” Diriwayatkan oleh Al-Baihaqi, Al-Hakim dan Ibnu Khuzaimah).

Harta yang kita miliki hakikatnya tidak sepenuhnya menjadi hak kita akan tetapi ada hak  Allah yang harus kita keluarkan sesuai dengan ketentuan-Nya. Beberapa Ulama menyimpulkan bahwa harta yang boleh disimpan adalah sebatas untuk keperluan hidup selama satu bualn kedepan dan selebihnya harus di sedekahkan di jalan Allah. Pada harta terdapat terdapat dua sisi yaitu kebaikan dan keburukan. Harta dapat menjelma menjadin racun, sekaligus penawar tergantung bagaimana sikap manusia memperlakukan harta.

مَّن ذَا ٱلَّذِى يُقْرِضُ ٱللَّهَ قَرْضًا حَسَنًا فَيُضَٰعِفَهُۥ لَهُۥٓ أَضْعَافًا كَثِيرَةً ۚ وَٱللَّهُ يَقْبِضُ وَيَبْصُۜطُ وَإِلَيْهِ تُرْجَعُونَ
               

Di dalam Al-quran surat Al-Baqoroh ayat 245 menjelaskan “Barang siapa meminjami Allah dengan pinjaman yang baik, maka Allah melipatgandakan ganti kepadanya dengan banyak. Allah menahan dan melapangkan rezeki dan kepada-Nyalah kamu dikembalikan”.

Sedekah dalam ayat ini diumpamkan seperti memberi pinjaman kepada Allah dan sudah jelas bahwa mengembalikan  pinjaman adalah sangat penting, oleh karena itu balasa ataw pahala sudah pasti akan didapat oleh mereka yang gemar bersedekah.

Dalam tafsir ibnu katsiir dikisahkan bahwa Ibnu Hatim meriwayatkan dari Abdullah ibnu Mas’ud r.a beliau menceritakan bahwa ketika turun ayat tersebut, Abu Dahdah Al-Anshori r.a bertanya :” Ya Rasulallah, apakah Allah mengharapkan pinjaman dari kita?” Rasulullah saw menjawab :” Ya, benar”, kemudian Abu Dahdah berujar “ Izinkan saya tangan engkau yang mulia Ya Rasulallah”, kemudian Rasulullah saw memberikan tangannya, maka kemudian Abu Dahdah r.a memegang tangan Rasulullah saw dan  berkata, “ Ya Rasulallah, saya pinjamkan kebun saya kepada Allah.”

Allah SWT memberikan perumpamaan balasan bagi orang yang besedekah  dalam surat Al-Baqoroh ayat 261 :

مَثَلُ الَّذِيْنَ يُنْفِقُوْنَ اَمْوَالَهُمْ فِيْ سَبِيْلِ اللّٰهِ كَمَثَلِ حَبَّةٍ اَنْۢبَتَتْ سَبْعَ سَنَابِلَ فِيْ كُلِّ سُنْۢبُلَةٍ مِّائَةُ حَبَّةٍ ۗ

وَاللّٰهُ يُضٰعِفُ لِمَنْ يَّشَاۤءُ ۗوَاللّٰهُ وَاسِعٌ عَلِيْم

Artinya : “ Perumpamaan orang yang menginfakkan hartanya di jalan Allah seperti sebutir biji yang menumbuhkan tujuh tangkai, pada setiap tangkai ada seratus biji. Allah melipatgandakan bagi siapa yang Dia kehendaki, dan Allah Mahaluas, Maha Mengetahu.”

            Ayat ini memberikan gambaran yang begitu jelas tetang balasan yang Allah SWT berikan kepada orang yang bersedekah dengan tujuan mencari keredhoan Allah SWT dengan melipatgandakan ganjaran yang diterima mulai dari sepuluh sampai tujuh ratus kali lipat, bahkan pada akhir ayat Alloh SWT menjanjikan melipatgandakan balasan bagi siapa saja yang Dia kehendaki. Perumpamaan ini juga megisyratkan bahwa pahala amal shalih itu dikenbangkan Allah SWT bagi para pelakunya sebagaimana tumbuh-tumbuhan, tumbuh subur bagi orang yang menanamnya di tanah yang subur.

Wallohu’alam

.

Referensi

 

Ishaq, DR Abdullah bin Muahammad bin Abdurrahman bin. Tafsir Ibnu Katsir. Jakarta: Pustaka Imam Syafi’i, 2008.

Kandalawi, Maulana Muhammad zakariya Al. Fadhilah Sedekah. Bandung: Pustaka Ramadhan, 2007.