Hutang Piutang : Hawalah

 Hutang Piutang : Hawalah

HAWALAH (MEMINDAHKAN)

Muhammad Izzudin Al-Fajri – 42004043

Sharia Economic Law

STEI SEBI -Depok

Email : izzudin.fajri2@gmail.com

  1. Pengertian

            hawalah (Bahasa Arab: ﺣﻮٵﻟﻪ) bermakna “mengalihkan” atau “memindahkan”. Di dalam istilah ilmu fiqih hawalah berarti pengalihan penagihan hutang dari orang yang berhutang kepada orang yang menanggung hutang tersebut.

            Secara etimologi, al Hawalah berarti pengalihan, pemindahan, perubahan warna kulit, memikul sesuatu diatas pundak. Sedangkan secara terminologi al hawalah didefinisikan dengan: Pemindahan kewajiban membayar hutang dari orang membayar hutang (al Muhil) kepada orang yang berhutang lainya (al muhtal alaih).

            Orang Arab biasa mengatakan, “Hala ’anil ’ahdi” yaitu ‘berlepas diri dari tanggung jawab’. Abdurrahman Al-Jaziri berpendapat bahwa yang dimaksud dengan “al-hiwalah”, menurut bahasa, adalah, “Pemindahan dari suatu tempat ke tempat yang lain.”

Sedangkan pengertian Hiwalah secara istilah, para Ulama’ berbeda-beda dalam mendefinisikannya, antara lain sebagai berikut:

a. Menurut Hanafiyah, yang dimaksud “al-hiwalah” adalah, “Memindahkan beban utang dari tanggung jawab muhil (orang yang berutang) kepada tanggung jawab muhal ‘alaih (orang lain yang punya tanggung jawab membayar utang pula).”

b. Menurut Maliki, Syafi’i, dan Hanbali, “al-hiwalah” adalah, “Pemindahan atau pengalihan hak untuk menuntut pembayaran utang dari satu pihak kepada pihak yang lain.”4 Hiwalah merupakan pengalihan hutang dari orang yang berutang kepada orang lain yang wajib menanggungnya. Dalam hal ini terjadi perpindahan tanggungan atau hak dari satu orang kepada orang lain. Dalam istilah ulama, hiwalah adalah pemindahan beban hutang dari muhil (orang yang berhutang) menjadi tanggungan muhal ‘alaih (orang yang berkewajiban membayar hutang).

Sebagai contoh: Fattah meminjamkan uang Rp.2000 kepada Sobron. Sedangkan Sobron memiliki piutang terhadap Wafi dengan jumlah yang sama, yakni Rp.2000. Dan ketika Fattah menagih hutangnya terhadap Sobron, Sobron berkata “ si Wafi memiliki hutang sejumlah Rp.2000 kepadaku, dan engkau dapat menagih kepadanya”. Tetapi, hawalah hanya dapat terjadi apabila terdapat sebuah kesepakatan diawal di antara ketiganya.

  • Dasar Hukum
  • Al-Qur’an:

وَاِنْ كَانَ ذُوْ عُسْرَةٍ فَنَظِرَةٌ اِلٰى مَيْسَرَةٍ ۗ وَاَنْ تَصَدَّقُوْا خَيْرٌ لَّكُمْ اِنْ كُنْتُمْ تَعْلَمُوْنَ

“Dan jika (orang yang berhutang itu) dalam kesukaran, Maka berilah tangguh sampai Dia berkelapangan. dan menyedekahkan (sebagian atau semua utang) itu, lebih baik bagimu, jika kamu mengetahui”.

(Q.S. Al-Baqarah : 280)

            b. Hadits:

“Memperlambat pembayaran hukum yang dilakukan oleh orang kaya merupakan perbuatan zalim. Jika salah seorang kamu dialihkan kepada orang yang mudah membayar hutang, maka hendaklah ia beralih(diterima pengalihan tersebut)”.(HR alBukhari dan Muslim).

  • Ijma:

Para ulama sepakat membolehkan hawalah. Hawalah dibolehkan pada hutang yang tidak berbentuk barang/ benda, karena hawalah adalah perpindahan utang, oleh sebab itu harus pada utang atau kewajiban finansial.

  • Rukun dan Syarat Hiwalah
  • Rukun Hiwalah Menurut mazhab Hanafi, rukun hiwalah hanya ijab (pernyataan melakukan hiwalah) dari pihak pertama, dan qabul (penyataan menerima hiwalah) dari pihak kedua dan pihak ketiga. Menurut mazhab Maliki, Syafi’i dan Hambali rukun hiwalah ada enam yaitu:

1) Pihak pertama, muhil : Yakni orang yang berhutang dan sekaligus berpiutang,

2) Pihak kedua, muhal atau muhtalا : Yakni orang berpiutang kepada muhil.

3) Pihak ketiga muhal ‘alaih : Yakni orang yang berhutang kepada muhil dan wajib membayar hutang kepada muhtal.

4) Ada hutang pihak pertama pada pihak kedua, muhal bih: Yakni hutang muhil kepada muhtal.

5) Ada hutang pihak ketiga kepada pihak pertama, Utang muhal ‘alaih kepada muhil.

6) Ada sighoh (pernyataan hiwalah).

7 Penjelasan, umpama Fauzan (muhil) berhutang dengan Sobron (muhal) dan Fauzan berpiutang dengan Wafi (muhal alaih), jadi Fauzan adalah orang yang berhutang dan berpiutang , Sobron hanya berpiutang dan Wafi hanya berhutang. Kemudian Fauzan dengan persetujuan Sobron menyuruh Wafi membayar hutangnya kepada Sobron, setelah terjadi aqad hiwalah, terlepaslah Fauzan dari hutangnya kepada Sobron, dan Wafi tidak berhutang dengan Fauzan, tetapi hutangnya kepada Fauzan, telah berpindah kepada Sobron bererti Wafi harus membayar hutangnya itu kepada Sobron tidak lagi kepada Fauzan.

  • Syarat-Syarat Hiwalah Syarat hiwalah ini berkaitan dengan Muhil, Muhal, Muhal Alaih dan Muhal Bih (hutang yang dipindahkan).
  • Syarat Muhil (Pemindah Hutang)

Ia disyaratkan harus dengan dua syarat :

a) Berkemampuan untuk melakukan akad (kontrak). Hal ini hanya dapat dimiliki jika ia berakal dan baligh. Hiwalah tidak sah dilakukan oleh orang gila dan kanak-kanak karena tidak mampu atau belum dapat dipandang sebagai orang yang bertanggung secara hukum.

b) Kerelaan Muhil. Ini disebabkan karena hiwalah mengandungi pengertian pelupusan hak milik sehingga tidak sah jika ia dipaksakan. Ibn Kamal berkata dalam al Idah bahawa syarat kerelaan pemindah hutang diperlukan ketika berlaku tuntutan.

2)   Syarat Muhal (Pemiutang Asal) Ia terdiri dari tiga syarat :

a. Ia harus memiliki kemampuan untuk melaksanakan kontrak. Ini sama dengan syarat yang harus dipenuhi oleh Muhil.

b. Kerelaan dari Muhal karena tidak sah jika hal itu dipaksakan.

c. Penerimaan penawaran hendaklah berlaku dalam majlis aqad. Ini adalah syarat beraqad.

3).  Syarat Muhal Alaih (Penerima Pindah Hutang)

a. Sama dengan syarat pertama bagi Muhil dan Muhal iaitu berakal dan baligh.

b. Kerelaan. Kalau ada unsur-unsur paksaan dala penerimaan pindah hutang, aqadnya tidak sah Ulama Maliki tidak mensyaratkan kerelaan bagi penerima hiwalah.

c. Penerimaan hendaklah dibuat dalam majlis aqad. Menurut Abu Hanifah da Muhammad, syarat ketiga ini adalah syarat beraqad.

4)   Syarat Muhal Bih (Hutang). Para ulama sekata bahawa hutang yang dipindahkan memenuhi dua syarat :

a. Ia hendaklah hutang yang berlaku pada pemiutang da pemindah hutang. Sekiranya ia bukan hutang, kedudukan aqadnya menjadi perwakilan. Implikasinya, hiwalah dalam bentuk baran yang ada tidak sah, karena ia tidak sabit dalam tanggungan.

b. Hutang tersebut hendaklah berbentuk hutang lazim. Hutang yang tidak lazim tidak sah dipindahkan, seperti bayaran ganjaran yang mesti dibayar oleh hamba makatab (hamba yang dibenarkan menebus diri dengan bayaran), karena hutangnya tidak boleh dianggap sebagai hutang lazim. Ringkasnya, setiap hutang yang tidk sah untuk tujuan jaminan, ia tidak sah juga untuk dipindah-pindahkan.

d. Jenis-jenis Hiwalah

a) Hiwalah Muthlaqoh Hiwalah Muthlaqoh terjadi jika orang yang berhutang (orang pertama) kepada orang lain (orang kedua) mengalihkan hak penagihannya kepada pihak ketiga tanpa didasari pihak ketiga ini berhutang kepada orang pertama. Jika A berhutang kepada B dan A mengalihkan hak penagihan B kepada C, sementara C tidak punya hubungan hutang pituang kepada B, maka hiwalah. ini disebut Muthlaqoh. Ini hanya dalam madzhab Hanafi dan Syi’ah sedangkan jumhur ulama mengklasifikasikan jenis hiwalah ini sebagai kafalah.

b) Hiwalah Muqoyyadah Hiwalah Muqoyyadah terjadi jika Muhil mengalihkan hak penagihan Muhal kepada Muhal Alaih karena yang terakhir punya hutang kepada Muhal. Inilah hiwalah yang boleh (jaiz) berdasarkan kesepakatan para ulama. Ketiga madzhab selain madzhab hanafi berpendapat bahwa hanya membolehkan hiwalah muqayyadah dan mensyaratkan pada hiwalah muqayyadah agar utang muhal kepada muhil dan utang muhal alaih kepada muhil harus sama, baik sifat maupun jumlahnya. Jika sudah sama jenis dan jumlahny, maka sahlah hiwalahnya. Tetapi jika salah satunya berbeda, maka hiwalah tidak sah.

Ditinjau dari segi obyeknya hiwalah dibagi 2, yaitu :

a. Hiwalah Haq Hiwalah ini adalah pemindahan piutang dari satu piutang kepada piutang yang lain dalam bentuk wang bukan dalam bentuk barang. Dalam hal ini yang bertindak sebagai Muhil adalah pemberi hutang dan ia mengalihkan haknya kepada pemberi hutang yang lain sedangkan orang yang berhutang tidak berubah atau berganti, yang berganti adalah piutang. Ini terjadi jika piutang A mempunyai hutang kepada piutang B.

b. Hiwalah Dayn Hiwalah ini adalah pemindahan hutang kepada orang lain yang mempunyai hutang kepadanya. Ini berbeza dari hiwalah Haq. Pada hakikatnya hiwalah dayn sama pengertiannya dengan hiwalah yang telah diterangkan terdahulu.

  • Kesimpulan

Hiwalah merupakan pengalihan hutang dari orang yang berutang kepada orang lain yang wajib menanggungnya. Dalam hal ini terjadi perpindahan tanggungan atau hak dari satu orang kepada orang lain. Dalam istilah ulama, hiwalah adalah pemindahan beban hutang dari muhil (orang yang berhutang) menjadi tanggungan muhal ‘alaih (orang yang berkewajiban membayar hutang).

Hiwalah Muthlaqoh terjadi jika orang yang berhutang (orang pertama) kepada orang lain (orang kedua) mengalihkan hak penagihannya kepada pihak ketiga tanpa didasari pihak ketiga ini berhutang kepada orang pertama.

Hiwalah Muqoyyadah terjadi jika Muhil mengalihkan hak penagihan Muhal kepada Muhal Alaih karena yang terakhir punya hutang kepada Muhal. Inilah hiwalah yang boleh (jaiz) berdasarkan kesepakatan para ulama.

Dalam praktek perbankan syariah fasilitas hiwalah lazimnya untuk membantu supplier mendapatkan modal tunai agar dapat melanjutkan usahanya. Bank mendapat ganti biaya atas jasa pemindahan hutang. Untuk mengantisipasi kerugian yang akan timbul bank perlu melakukan penelitian atas kemampuan pihak yang berhutang dan kebenaran transaksi antara yang memindahkan hutang dengan yang berhutang.

Digiqole ad