Hukum Wakaf Bersyarat

Oleh : Muhammad Izzudin Alfajri

HES20B, STEI SEBI

wakaf bersyarat contohnya : seorang janda miskin mewakafkan sebidang tanah untuk masjid dengan syarat ketika ia meninggal dunia biaya pemulasaraan dan tahlilan ditanggung oleh masjid.

Bagaimanakah  hukum wakaf bersyarat seperti itu?

Jawaban : Hukum  wakaf sebagaimana kejadian di atas adalah sah, sedangkan syarat yang ditentukan oleh waqif tidak sah sebab syarat tersebut bertentangan dengan syara’ (berupa : harta masjid tidak boleh digunakan untuk keperluan selain kemaslahatan yang kembali ke masjid), namun syarat tersebut tidak menjadikan batalnya wakaf. Selama syarat-syarat pewakaf itu tidak bertentangan dengan syariah dan target wakaf, maka diperkenankan. Sebagaimana hadis Rasulullah SAW, “Kaum Muslimin terikat dengan syarat-syarat mereka kecuali syarat yang mengharamkan yang halal atau menghalalkan yang haram.” (HR. Tirmidzi).

Adapun Ada dua istilah dalam perwakafan yaitu wakaf selamanya dan wakaf sementara. Wakaf selamanya diartikan dengan wakaf yang tidak ada pembatasan waktunya sehingga tidak ada akhirnya atau berlaku untuk jangka waktu selamanya, sedangkan wakaf sementara adalah wakaf yang memiliki batas waktu berakhirnya wakaf.  wakaf bisa berlaku untuk jangka waktu selamanya atau terbatas sesuai keinginan wakif.

Pada wakaf selamanya, harta wakaf yang diwakafkan tidak bisa diambil Kembali oleh wakif, sementara wakaf berjangka harta tersebut akan dikembalikan oleh nazhir kepada wakif setelah jangka waktu wakaf yang ditentukan berakhir, sesuai dengan ikrar wakafnya. Namun, Undang-undang wakaf tidak membolehkan wakaf tanah  yang diatasnya dibangun masjid atau mushola untuk jangka waktu tertentu.