Cara Menggali Maqashid Syariah

 Cara Menggali Maqashid Syariah

CARA MENGGALI MAQASHID SYARIAH

Aulia Rahmah (42002005)

Pembicaraan tentang pembentukan atau pengembangan hukum yang dalam istilah ushul fiqh disebut ijtihad berkaitan erat dengan perubahan-perubahan sosial yang berlangsung dalam masyarakat. Secara umum ijtihad itu dapat dikatakan suatu upaya berpikir secara optimal dalam menggali hukum Islam dari sumbernya untuk memperoleh jawaban terhadap permasalahan hukum yang muncul dalam masyarakat.

Antara upaya ijtihad di satu pihak dan tuntutan perubahan sosial dipihak lain terdapat suatu interaksi. Ijtihad, baik secara langsung ataupun tidak dipengaruhi oleh perubahan-perubahan sosial yang diakibatkan oleh antara lain kemajuan ilmu dan teknologi, sedangkan disadari bahwa perubahan-perubahan sosial itu harus diberi arah oleh hukum, sehingga dapat mewujudkan kebutuhan dan kemaslahatan umat manusia. Menurut Al-Tiwana ijtihad dapat dibagi kepada tiga obyek :

  1. Ijtihad dalam rangka memberi penjelasan dan penafsiran terhadap nash
  2. Ijtihad dalam melakukan qiyas terhadap hukum-hukum yang telah ada dan telah disepakati.
  3. Ijtihad dalam arti penggunaan ra’yu[i]

Dalam ilmu sosiologi hukum, hukum dalam posisi di atas dituntut dapat memainkan peran ganda yang sangat penting :

  1. Hukum dapat dijadikan sebagai alat kontrol sosial terhadap perubahan- perubahan yang berlangsung dalam kehidupan manusia
  2. Hukum dapat dijadikan sebagai alat rekayasa sosial[ii],dalam rangka mewujudkan kemaslahatan umat manusia sebagai tujuan hakiki hukum itu sendiri.

Oleh karena itu, pengaturan sebagian masalah sosial kemasyarakatan adalah dengan nash-nash dalam bentuk pokok-pokoknya saja, maka masalah sosial kemasyarakatan ini menjadi lapangan ijtihad. Dalam bidang ini, kita dapat melihat dinamika hukum Islam dalam mengantisipasi perkembangan dan perubahan yang terjadi dalam masyarakat.[iii]Ini tidaklah berarti bahwa masalah sosial kemasyarakatan tidak mengandung dimensi ibadah . Dalam Islam segala aktivitas manusia merupakan wujud peribadatan kepada Allah.[iv] Pembagian di atas, lebih ditunjukkan untuk memberikan terhadap masalah-masalah yang tidak menerima perubahan dan pengembangan dan masalah yang dapat menerima perubahan dan perkembangan dengan berbagai metode ijtihad dan pertimbangan yang diterapkan.

Dalam perspektif pemikiran hukum Islam (ushul al- fiqh) para ulama ushul merupakan berbagai metode dalam melakukan ijtihad hukum. Metode-metode itu, antara lain qiyas, ihstislah, istishab, dan urf.[v]

Penerapan metode-metode tersebut dalam prakteknya juga didasarkan atas maqashid al-syari’ah. Maqashid al-syari’ah jamak dari kata maqsid yang berarti tuntutan, kesengajaan atau tujuan.

A. Cara Mengetahui (Masalik) Maqashid Syariah

Pada prinsipnya, mashlahat dunia dan mafsadahnya bisa diketahui dengan akal pikiran manusia, sehingga begitu pula perintah dan larangan Allah Swt.  Bisa dipahami oleh hamba karena perintah dan larangan Allah Swt tersebut dibangun di atas mashlahat.  Allah menjelaskan hal ini secra eksplisit dalam beberapa firmannya, diantaranya Firman Allah Swt : (Al-A’raf [7]: 157) dan (Al-A’raf [7]: 33).

Asy-Syatibi menyebutkan beberapa hal untuk mengenali maqashid syariah yaitu:

  1. Memahami maqashid syariah sesuai dengan ketentuan bahasa Arab karena nash-nash Al-Qur’an dan al-Hadis menggunakan bahasa Arab.
  • Memahami Al-Awamir wa an-nawahi (perintah dan larangan) Allah Swt. Karena dibalik perintah atau larangan terkandung maksud dan tujuan.

Asy-syatibi menjelaskan dua bentuk perintah dan larangan yaitu: pertama, perintah atau larangan itu ibtida’an (dari sejak awal) seperti larangan berjual beli ketika shalat jum’at sebagian dijelaskan dalam surat Al-Jumu’ah [62]: 9. Kedua, tashrihi, yaitu perintah dan larangan yang bisa dipahami jelas maknanya seperti pesan perintah dari kaidah ushul: sesuatu yang terjadi wajib karena hal tertentu, maka hal tertentu tersebut menjadi wajib juga.

  • Mengetahui ‘illat dalam setiap perintah dan larangan Allah Swt. Dengan megetahuinya dapat mengenalkan pada hikmah dan maqashid dalam perintah dan laranggan Allah Swt.
  • Maqashid ashliyah wa maqashid taba’iyyah (maqashid inti dan maqashid pelengkap). Misalnya dalam shalat, maqashid aslinya adalah ketundukan kepada Allah Swt. Dan maqashid pelengkapnya di antaranya meweujudkan hati yang bersih. Dengan mengetahui maqashid  taba’iyyah (maqashid pelengkap), maka akan diketahui maqashid ashliyah (maqashid inti)
  • Sukut syaari’ (Allah Swt. Tidak menjelaskan hukum tertentu) khusunya dalam masalah ibadah, misalnya ketika Allah Swt. Menjelaskan tata crara ibadah tertentu, maka selebihnya adalah Bid’ah, dan itu slah satu Maqashidnya.
  • Istiqra (meneliti hukum dan masalah furu (malah masalah detail hukum) ) untuk menemukan satumaqashid (tujuan) dan ‘illat yang menjadi titik persamaan seperti kulliyatu al-khomsah (5 hajat manusia) : hifdzu din (melindungi agama), hifdzu nafs (melindungi jiwa), hifdzu aql (melindungi pikiran), hifdzu mal (melindungi harta), hidzhu nasab (melindungi keturunan).  Kelima kebutuhan ini bertujuan memenuhi tujuan-tujuan berikut: dharuriyat, yaitu kebutuhan wajib agar terpenuhi. Hajiyat, yaitu kebutahan yang meringankan beban kesulitan manusia. Tahsinat, yaitu kebutuhan pelengkap.
  • Masalik at-ta’lil (cara mengetahui ‘illat), yaitu dengan menggunakan ijma’, nash, tanbih dan munasabah. Terkhusus tanbih dan munasabah itu biasanya digunakan untuk mengungkpkan maqashid juz’iyyah (maqashid khusus) dan bukan maqashid ‘ammah (maqashid umum).[vi]

[i] MMuhammad Musa al-Tiwana, Ijtihad wa Mada Hajatina Ilaih fi Haza al-‘Asr, (T.t, Dar al-Kututb al-Hadisah, t.th), h. 39.

[ii] Soerjono Soekanto, Pokok-Pokok Sosiologi Hukum, (Jakarta : Rajawali Press, 1980), h. 115.

[iii] Halid M. Ishaque, Islamic Law: Its Ideal and Principles dalam Altaf Gauhar (Editor) The Challenge of Islam (London : Islamic Council of Euroupe, 1988). H. 155.

[iv] Lihat Q.S:51:56: Dan Aku tidak menciptakan Jin dan manusia melainkan supaya mereka menyembah-KU.

[v] Abd. Al-Wahaf Khalaf, Mashadir al-Tassrik fi ma la nashsh fi, (Kuwait: dar al-Kalam, 1972), h.

67.

[vi] Ahmad ar-Risuni, al-Fikr al-Maqashidi, qawaiduhu wa dhowabituhu, h. 50-56 dan ar-Risuni, nadariyyatu al-maqashid lil al-imam asy-Syatibi, h. 162.

Digiqole ad