Memahami Lebih Dalam Tentang Broken Home

Setiap manusia mempunyai harapan untuk memiliki keluarga yang harmonis dan bahagia. Namun terkadang harapan tersebut tak sesuai dengan kenyataan. Keluarga adalah kepingan kehidupan yang tak bisa dipisahkan dari setiap individu. Bahkan masa depan seorang anak tergantung baik atau tidaknya hubungan sebuah keluarga. Terlahir dan tumbuh dari keluarga broken home bukanlah menjadi suatu yang bisa dipilih. Terbiasa dengan pertengkaran, suara yang lantang, kekerasan, ketidakharmonisan dan canggung menunjukan kasih sayang. Seperti layaknya anak-anak lain yang mendambakan sebuah keluarga yang harmonis dan penuh kasih sayang kamipun menginginkannya.

Broken home terbagi menjadi dua yaitu keluarga yang utuh dan tidak utuh (broken). Keluarga tidak utuh disebabkan karena kedua orang tua mereka bercerai. Dan keluarga utuh (broken) yaitu keluarga yang tidak memiliki kemampuan untuk memenuhi kebutuhan fisik, ekonomi, psikologis, dan sosial.

Dalam kondisi ini anak akan merasakan kehilangan kasih sayang hingga mengakibatkan trauma psikologis yang membekas dalam dirinya. Berikut penderitaan yang dialami anak “Broken Home”.

  • Kehilangan

Korban broken home akan sangat merasa kehilangan. Kehilangan keluarga utuh, cinta dan kasih sayang yang bisa didapat atau dikembalikan seperti semula.

  • Kesedihan

Mereka akan sangat merasakan kesedihan karena mendapatkan keluarga yang hancur. Rasa ini akan sangat membekas seperti dunia runtuh di hadapannya seketika.

  • Merasa sebagai sebab perpecahan

Dampak psikologisnya mereka akan merasakan bahwa dirinya sebagai sebab perpecahan tersebut. Walaupun secara rasional bukan dirinya yang menyebabkan perpecahan.

  • Merasakan kehilangan arah dalam hidup

Mereka akan bertanya-tanya kemana akan berlabuh, apalagi dengan mengetahui kedua orang tua yang membangun keluarga baru masing-masing. Namun beruntunglah bagi mereka yang mempunyai keluarga dan saudara yang senantiasa terbuka menerimanya.

Terlepas dari beberapa penderitaan di atas, manusia dianugerahi Tuhan dengan kesabaran dan ketabahan yang luar biasa dalam menjalani hidup. Hilangnya keluarga, cinta, kasih sayang bukan berarti menghambat masa depan hingga terjatuh ke jurang yang salah. Keluarga yang dimiliki memang sudah tidak lagi utuh namun cobalah menjadi manusia seutuhnya. Selalu berproses dengan kegiatan yang positif. Jadikan motivasi, pembelajaran dan penyemangat dalam menjalani hidup yang lebih baik.

Sumber: pijarpsikologi.org, www.idntimes.com